Chat with us, powered by LiveChat

Tempeleng Petugas, Rebranding “New Prabowo” Patah Sudah

Apakah Capres 02 Prabowo Subianto sedang dikeroyok preman? Tidak. Ataukah Prabowo sedang berhadapan dengan musuh negara? Tidak. Mungkinkah Capres 02 tengah terlibat perkelahian? Tidak. Pernahkah Capres 01 melakukan hal serupa? Tentu tidak.

Lalu, mengapa Prabowo sengaja menempeleng atau menepak atau memukul petugas kepolisian yang mengawal keselamatannya? Saya pribadi menilai, apapun alibi Prabowo, ngeplak polisi yang mengawalnya dalam kegiatan kampanye di Cianjur, Jawa Barat, sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Bahwa sudah ada klarifikasi dari Badan Pemenangan Pemilu (BPN) 02 yang menyebutkan Prabowo hanya mengur pengawalnya ya silakan saja. Bahwa sudah dilakukan diklarifikasi oleh Polri terkait pengamanan over acting anggotanya ya monggo saja lah.

Tapi, sekali lagi bagi saya, aksi main tangan di hadapan publik oleh siapapun adalah perbuatan primitif dan brutal. Lebih-lebih, dilakukan seorang yang konon salah satu putra terbaik bangsa dari atas mobil terbuka dalam arak-arakan yang begitu gegap gempita pula.

Bukankah ada cara lain yang lebih humanis menegur orang? Bisa dengan memberhentikan mobil lalu bicara baik-baik. Bisa dengan meneriakinya. Bisa dengan memakinya. Bisa dengan membentaknya. Asal jangan sekali-kali memukulnya.

Setiap kali Prabowo atau siapapun mengatakan Indonesia bakal bubar, negeri ini akan punah, kekayaan negara diboyong oleh asing, menteri pencetak utang, tampang Boyolali, mengejar tikus hingga ke antartika dan sejenisnya, orang mungkin hanya senyum-senyum saja.

Toh, ini masa kampanye. Jual-beli narasi, kritik tajam, dan saling bullysudah lumrah adanya. Toh, hanya bacot. Toh, hanya adu mulut. Namun ketika sudah main tempeleng, ini lain ceritanya, Bro. Ini amoral. Ini amok.

Bolehkah memukul tanpa alasan hukum? Adakah teori yang membenarkan pemukulan atau penempelengan? Bukankah itu identik dengan perilaku kriminal yang receh? Apakah itu bentuk ketegasan atau kebengisan?

“Old Prabowo”

Terdapat sejumlah perkara yang relevan didiskusikan di balik kelakuan Prabowo yang viral di media sosial tersebut. Perilaku kasar yang natural selalu berhasil menunjukkan watak temperamental yang bersangkutan. Temperamental beda dengan tegas loh.

Yang umum terjadi di tengah masyarakat, watak temperamental disandang oleh mereka yang masih muda. Namun, bila itu terjadi pada sosok sepuh berusia 67 tahun, lalu apa namanya? Mungkin temperamental tingkat lanjut atau temperamental akut.

Dulu, banyak orang tidak percaya ketika ada cerita Prabowo menggebrak meja di depan ulama 212. Orang tak percaya karena yakin Prabowo sudah tak seperti dulu. Katanya ada rebranding sosoknya yang humanis melalui label “New Prabowo”. Joget ala Gatot Kaca adalah bagian dari semua itu.

Akan tetapi, bekas tempelengan di tangan Capres 02 itu justru mengisahkan “Old Prabowo”. Prabowo masih seperti dulu. Rebrandingyang susah payah dibangun timsesnya patah sudah. Akan sangat sulit orang percaya dia sudah berubah. Gelap lagi. Hitam lagi.

“Bad Personal Branding”

Bila kita berbaik sangka, mungkin niat Prabowo baik saat ‘menegur’ pengawal resmi yang difasilitasi negara tersebut. Boleh jadi benar dia tidak mau petugas menghalangi para pendukungnya untuk bersalaman dengan sang idola.

Namun, niat siapa yang bisa lihat. Dan celakanya, jejak digital mustahil dihapus. Akan abadi. Bahkan kekal sebagai tontonan lucu anak cucu kelak. Bisa jadi cerita badut dalam fragmen politik kakek buyut mereka. Bisa jadi bahan olok-olok. Yang tidak bisa dilarang. Tidak mungkin dibendung.

Karena bebas ditafsirkan sebebas-bebasnya, maka video main tangan itu akan betul-betul dibaca dalam wilayah persepsi publik. Padahal di situlah titik krusialnya. Di wilayah persepsi, tempelengan itu tidak lebih dari “bad personal branding” sang pelaku.

Maka, jangan salahkan apabila video ini kemudian diseret dan dikapitalisasi sebagai senjata politik untuk menjatuhkan kredibilitas yang bersangkutan. Jangan salahkan pula dijadikan instrumen untuk menyumpal setiap narasi hipokrit tentang sosoknya yang humanis, ramah, dan beradab.

Pada akhirnya, uraian ini dapat diringkas dalam tiga kalimat. Bahwa politik berkeadaban tidak cukup hanya diucapkan. Bahwa watak ramah dan dekat dengan rakyat sulit untuk dibuat-buat. Bahwa menempeleng orang di depan khalayak ramai biasanya hanya tega dilakukan oleh seorang yang…… ah sudahlah.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *